Senin, 27 Mei 2013

Nostalgia, Mengingat Mei Mei Lalu


Ya Allah, aku tak pernah menyangka. Terlalu lama tidak berhubungan dengan orang itu, menyebabkan hal inilah yang kurasakan ketika ia memulai percakapan. Aku tak bisa berhenti tersenyum, rasanya seperti ada puluhan kupu-kupu yang beterbangan dalam perutku. Asli, perasaan ini bukan sekadar kalimat hiperbola belaka. Aku sungguh merasakannya, bukan sekadar meniru kalimat yang sering digunakan dalam novel-novel remaja. Ditemani lantunan lagu “Beautiful Words” dari M Signal, yang baru saja aku download setelah mengkhatamkan drama seri “A Gentleman’s Dignity”. Lagu sederhana yang bersemangat yang mengungkapkan rasa suka yang terekspresi hanya lewat kata-kata, tepat seperti yang kurasakan malam ini. Ternyata aku masih suka dia, atau mungkin aku sekadar terbawa suasana.

Orang itu masih ada. Setelah ia menghilang tanpa jejak hampir setahun ini, ternyata masih mau ia menghubungiku. Ini adalah satu tahun lain tanpa komuikasi dengannya, kami pernah menjalani hal yang sama sebelumnya. Hanya karena suatu kesalahpahaman sepele. Kesalahpahaman yang sangat mudah merasuk dalam jiwa muda yang masih sangat labil, ketika masa itu alay belum dikenal sehingga tak ada yang berkomentar jika kami melakukannya. Tapi intinya, malam ini ia datang kembali.

Tiba-tiba ia menyapaku dengan tweet singkatnya, sesaat setelah aku hampir mengicaukan judul postingan ini melalui akunku. Untung saja batal, karena tepat seltelah aku mengklarifikasi, ia datang. Hari ini aku bertemu akunnya lagi setelah sekian lama, berkat ia me-retweet kicauan pacarnya yang menambahkan foto seonggok boneka. Aku exited, seperti biasanya setiap melihat usernamenya. Aku memang terlalu sering begini, bukan hanya pada dia. Meski aku tau dia sudah berbahagia bersama kekasihnya yang baru, gadis manis yang seiman dengannya. Selamat, ingin sekali kuucapkan kata itu kepadanya. Karena jujur saja, aku turut bahagia bersamanya. Seperti yang biasanya kulakukan. Sebagaimana yang seharusnya dirasakan seorang adik ketika kakaknya bahagia.

Ya, dia kakakku yang baru ketemu setelah kami sama-sama remaja. Haha. Konyol. Aku harusmengakui kalau aku menyukai ‘kakak ‘ yang satu ini. Perasaan satu arah ini sempat kupertahankan selama lebih dari satu tahun. Aku menyukainya dan hubunganku dengannya. Hubungan yang selalu gantung, tanpa pernah ada status yang jelas, meskipun kami selalu berhubungan dekat seakan kami memiliki status (pengecualian satu tahun tanpa sepatah kata). Aku juga masih sangat ingat kalimat-kalimatnya dan betapa tajam ingatannya. Ceilaah. Hahaha. Mengingat masa lalu membuatku tergelitk lagi.

Hebat. Cukup dengan sebaris tweet singkat saja ia mampu membangunkan semua memori yang pernah kubuat bersamanya. Dan terus bercakap dengannya membuatku makin terpancing. Terpancing melarutkan diri dalam nostalgia dunia lama, ketika tak ada yang mengerti isi cerita selain kami berdua. Maaf kawan, aku memang terlampau sering diajak berkelana ke dunia khayal olehnya. Anak ajaib yang mampu membuatku mengacuhkan pandangan orang lain. Orang yang sempet menjadi objek inspirasi untuk kamar lamaku.

Lalu, apakah sekarang mungkin ia juga akan mengisi sudut-sudut di dalam bilik kecilku ini? Sudahlah, biar Tuhan yang mengarahkan. Lagipula, aku akan menerimanya dengan senang hati kok. Toh dia sudah terlanjur baik dan terlanjur jahat padaku. Haha.

Berkat orang ini, aku dengan begitu santainya menyingkirkan tumpukan referensi tutorial dan modul praktikum. Padahal aku sudah jelas terpilih jadi presentan dan besok juga sudah jelas terjadwal praktikum pertama yang juga berarti harus pretest pertama. Thanks for you lah ya, kak -_- Tapi tenang kok, aku tetep bahagia, dan akan tetap menjalankan kewajiban kuliah dengan baik :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar