Ya
Allah, aku tak pernah menyangka. Terlalu lama tidak berhubungan dengan orang itu,
menyebabkan hal inilah yang kurasakan ketika ia memulai percakapan. Aku tak
bisa berhenti tersenyum, rasanya seperti ada puluhan kupu-kupu yang beterbangan
dalam perutku. Asli, perasaan ini bukan sekadar kalimat hiperbola belaka. Aku sungguh
merasakannya, bukan sekadar meniru kalimat yang sering digunakan dalam
novel-novel remaja. Ditemani lantunan lagu “Beautiful Words” dari M Signal, yang
baru saja aku download setelah mengkhatamkan drama seri “A Gentleman’s Dignity”.
Lagu sederhana yang bersemangat yang mengungkapkan rasa suka yang terekspresi
hanya lewat kata-kata, tepat seperti yang kurasakan malam ini. Ternyata aku masih
suka dia, atau mungkin aku sekadar terbawa suasana.
Orang
itu masih ada. Setelah ia menghilang tanpa jejak hampir setahun ini, ternyata masih
mau ia menghubungiku. Ini adalah satu tahun lain tanpa komuikasi dengannya,
kami pernah menjalani hal yang sama sebelumnya. Hanya karena suatu
kesalahpahaman sepele. Kesalahpahaman yang sangat mudah merasuk dalam jiwa muda
yang masih sangat labil, ketika masa itu alay belum dikenal sehingga tak ada
yang berkomentar jika kami melakukannya. Tapi intinya, malam ini ia datang
kembali.
Tiba-tiba
ia menyapaku dengan tweet singkatnya, sesaat setelah aku hampir mengicaukan
judul postingan ini melalui akunku. Untung saja batal, karena tepat seltelah
aku mengklarifikasi, ia datang. Hari ini aku bertemu akunnya lagi setelah
sekian lama, berkat ia me-retweet kicauan pacarnya yang menambahkan foto
seonggok boneka. Aku exited, seperti biasanya setiap melihat usernamenya. Aku memang
terlalu sering begini, bukan hanya pada dia. Meski aku tau dia sudah berbahagia
bersama kekasihnya yang baru, gadis manis yang seiman dengannya. Selamat, ingin
sekali kuucapkan kata itu kepadanya. Karena jujur saja, aku turut bahagia bersamanya.
Seperti yang biasanya kulakukan. Sebagaimana yang seharusnya dirasakan seorang
adik ketika kakaknya bahagia.
Ya,
dia kakakku yang baru ketemu setelah kami sama-sama remaja. Haha. Konyol. Aku harusmengakui
kalau aku menyukai ‘kakak ‘ yang satu ini. Perasaan satu arah ini sempat
kupertahankan selama lebih dari satu tahun. Aku menyukainya dan hubunganku
dengannya. Hubungan yang selalu gantung, tanpa pernah ada status yang jelas, meskipun
kami selalu berhubungan dekat seakan kami memiliki status (pengecualian satu
tahun tanpa sepatah kata). Aku juga masih sangat ingat kalimat-kalimatnya dan betapa
tajam ingatannya. Ceilaah. Hahaha. Mengingat masa lalu membuatku tergelitk
lagi.
Hebat.
Cukup dengan sebaris tweet singkat saja ia mampu membangunkan semua memori yang
pernah kubuat bersamanya. Dan terus bercakap dengannya membuatku makin
terpancing. Terpancing melarutkan diri dalam nostalgia dunia lama, ketika tak
ada yang mengerti isi cerita selain kami berdua. Maaf kawan, aku memang terlampau
sering diajak berkelana ke dunia khayal olehnya. Anak ajaib yang mampu
membuatku mengacuhkan pandangan orang lain. Orang yang sempet menjadi objek
inspirasi untuk kamar lamaku.
Lalu,
apakah sekarang mungkin ia juga akan mengisi sudut-sudut di dalam bilik kecilku
ini? Sudahlah, biar Tuhan yang mengarahkan. Lagipula, aku akan menerimanya
dengan senang hati kok. Toh dia sudah terlanjur baik dan terlanjur jahat
padaku. Haha.
Berkat
orang ini, aku dengan begitu santainya menyingkirkan tumpukan referensi
tutorial dan modul praktikum. Padahal aku sudah jelas terpilih jadi presentan
dan besok juga sudah jelas terjadwal praktikum pertama yang juga berarti harus
pretest pertama. Thanks for you lah ya, kak -_- Tapi tenang kok, aku tetep bahagia,
dan akan tetap menjalankan kewajiban kuliah dengan baik :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar